Antara Door to Door dengan Potensi Kemiskinan di negara kita
Pernahkah kita berfikir, dikala musim PHK massal saat ini siasat apakah yang harus kita lakukan, padahal dibalik itu harga-harga terus melangit tanpa diiringi meningkatnya kesejahteraan yang signifikan?.Sebuah pertanyaan keras dan tajam menyayat, Sementara itu juga angka bencana dan kemerosotan industri terus mewarnai catatan - catatan ringan kita sebagai para pekerja yang menggantungkan diri terhadap kelangsungan kumpeni tempat kita mengais rejeki. Om saya pernah mengatakan dalam sebuah percakapan kala itu, yaitu lebi enak memang ngikut kerja di tempat orang, namun lebi baik dan lebi mulia lagi bila kita membuka lahan kerja bagi orang yang membutuhkan.
Berkaca dari hal tersebut, sebelum berfikir kearah sana saya ingin mengamati system D2D atau Door to Door yang saat ini marak dilakukan oleh vendor-vendor yang berhubungan dengan penjualan. Tulisan ini terketuk ketika hari minggu kemaren ada seorang sales dengan kendaraan sonicnya datang sambil menawarkan product LG dari mulai rice cooker sampai dengan laptop dan hape.
Bila ditinjau dari model pemasaran seperti itu, sepertinya mungkin cerdik yang terlintas di benak kita, namun bila ditelaah lagi ada beberapa kemungkinan yang patutu untuk didepankan dalam menganalisanya, yaitu Vendor tersebut sedang promo atau vendor tersebut ingin meningkatkan pemasarannya dengan jalan datang langsung ke konsumen dan ngga mengindahkan kondisi "bukan konsumen yang mendatangi di mall - mall, melainkan produsen mendatangi konsumen", nah.. kalo bosl sedikit di simpulkan dari option kedua tadi yaitu bisa jadi konsumen saat ini muali pandai dalam memilih barang atau bisa jadi konsumen saat ini mengalami penurunan dalam pembelian atau pemakaiannya….. hehe, bukan begitu?!! :))