Poligami dan Monogami
Beberapa hari ini ada perbincangan menarik yang asal muasalnya dari A’a gym yang melakukan poligami dengan seorang janda, hehe. Seakan - akan masalah yang dulu pernah terkubur sekarang terangkat kembali. Sebenarnya bila menanggapi masalah poligami atau monogami sebaiknya harus bener-bener diliat dari sisi mana kita melihat dan dari sisi mana kita menjawab, terlebih lagi bila dilihat dari sisi hukum islam, mungkin saya ngga akan berpendapat dari sisi agama, alasan simple saja, sya kurang memahami terlalu dalam hukumyang membahas tentang poligami, toh .. para ulama yang masi deket dengan jaman nabi aja masi debat apalagi ulama sekarang..hehe (maap ngga ada maksud merendahkan,tapi bila diteruskan pasti akan debat kusir jadinya). Nah poligami bila dilihat dari sudut lelaki muda yang belum nikah mungkin akan mengatakan "halah…orang nikah satu aja blom dapet mo poligami", atau yang udah nikah mungkin akan menjawab seperti ini "wah..asik..tuh asal diijinkan ma bini" atau mungkin yang agak nyadar kondisi mungkin mengatakan "nah lho..orang ngatur bini satu aja udah susah gimana mo ngatur dua palagi tiga malah ngga bisa adil ntar" … ya begitulah laki-laki biasanya menilai, namun pada prinsipnya sebenarnya 1000 cewe pun ngga akan cukup untuk memenuhi hasrtanya, tapi ada juga yang memang memanage dengan formulasi "setia" untuk satu istri, namun ada juga yang memang punya pertimbangan bahwa ada sisi kelemahan dari suami ataupun istri yang butuh untuk datangnya orang ketiga (dalam konteks yang resmi dan beradab) kurang lebi mungkin seperti itu, jadi dengan kata laen bahwa seorang laki-laki harus bener-bener melewati beberapa tahap dimana penekanannya tersebut adalah bila tak mampu untuk melewati tahap tersebut ya jangan poligami. berbeda dengan perempuan, dari jika melihat dari sisi perempuan yagn blum merit pasti beda dengan perempuan yang udah merit, mungkin yang belum merit bila ditanya akan menjawab "naudzubillah himindalik semoga laki gue ntar ngga poilgami", sedangkan bila di berikan pertanyaan seperti "pernah liat data BPS, ada berapa perbandingan jumlah wanita dan laki-laki di Indonesia?" rasanya bukan 1:3 lagi tapi tapi 1:13, nah luh bila salah satu dari 13 tersebut udah merit nah yang 12 ikut siapa?… yah kalo kebagian yang merti sih ga masalah tapi kalo kebagian yang 12 td gimana coba?… ok itu kalo melihat dari sisi perempuan yang blum merit, tapi kalo melihat dari sisi peempuan yang uda merit, mungkin akan mengatakan "kucincang ntar dia kalo minta bini lage!!!" ..haha, tuh mengatakan ngga bakalan ikhlas melepas suami yang mau poligami, sekarang ada pertanyaan buat para istri, apa yang terjadi bila suaminya merasa iba karena sang istri telah maksimal dalam melayani suami sedangkan sisi laen si suami merasa ada yang kurang?… diijinkan?.. bila iya mungkin ..seperti A’a Gym tadi, bila ngga mungkin lokalisasi dolly makin gede dengan sederet pria hidung belang yang suka jajan dan ngga pernah bawa pulang, iya ngga?… hemmm.Bener - bener masalah pelik, coab kalo kita bener-bener menyadari kondisi kita, kekurangan kita, sampai sebatas mana taraf kesetiaan kita, keberadaban moral kita dalam memahami suami maupun istri ataupun bener-bener bertanggng jawab terhadap tindakan serta memahami etika dan undang-undang dalam berumah tangga….mungkin hal ini ngga akan berpolemik seperti ini.