Selamat Tahun Baru Muharram!!


Tett..tretet..tet..tet…

Selamat Tahun baru Muharram 1430 Hijriyah.

Semoga dengan bertambahnya tahun baru Hijriyah semakin bertambah kualitas keimanan kita dan tercapai semua Hajat dan cita-citanya, amin.

Tett..tretet..tet..tet…

Turunkan harga!!!… eiits.. liat dulu


Bensin turun lagi??!!
Sekarang menjadi IDR 5000 sedangkan pertamax masi diangka IDR 6500, efektifkah?, sepertinya ngga, budaya kita biasanya bila harga BBM naik maka akan diikuti kenaikan pula di harga-harga barang yang lain, mulai dari bahan makanan yang berkanjut ke makanannya, harga barang yang diikuti dengan alasan biaya transportasi naik pula dan sebagainya. Nah, fenomena turunnya harga BBM dalam 2 tahap saat ini belum tentu memberikan tendensi positif bagi kita, tuntutan untuk turunnya harga makanan dan barang pun datang silih berganti, namun ternyata sampai saat ini hal tersebut masih sebatas menjadi wacana saja.

Berantas Korupsi


Akhirnya pilkada untuk sebagian daerah Jawa timur diulang kembali.
Hu..uh, bener-bener menyesakkan, dalam pemilu tahap pertama jumlah Golput yang tinggi sempat membuat paradigma bahwa krisis kepercayaan terhadap sistem pemerintahan yang tinggi menyebabkan rakyat enggan untuk menyempatkan waktunya datang ke TPS, disamping alasan bahwa kepemimpinan sebelumnya masih dinilai layak untuk duduk lagi (andai tidak terhambat oleh batasan 3 kali periode). Namun bukan kondisi seperti ini yang akan siangkat sebagai wacana melainkan, lebih kepada mental rakyat kita saat ini. Di tengah-tengah perjuangan KPK yang begitu gigih dalam memberantas koruptor-koruptor dinegara kita, disamping beberapa BUMN mulai konsekuen dalam menyuarakan korupsi (seperti kejaksaan) dan perbaikan management di beberapa perusahaan dari dalam/luarnegri dengan materi “code of conduct” sebagai tamengnya (seperti pertamina), sebenarnya sudah saatnya kita lebih memingkatkan budaya anti korupsi dari hal yang kecil sampai dengan hal yang besar tanpa ragu-ragu lagi. Ngga perlu muluk-muluk ke jumlah yang lebih tinggi dari upeti-upeti yang sering kita terima (dulu mungkin), namun ke hal yang lebih kecil seperti datang ke kantor tepat waktu, pulang tepat waktu, hindari lembur bila memang ngga perlu, istirahat tepat waktu dan bisa juga bekerja pada porsi yang tepat sesuai scope of work kita, bila tugas tersebut menuntut kita untuk maksimal dan focus maka konsekuensi kita untuk melakukannya, namun apabila parameter lebih dan seringnya kita Overtime karena menyelesaikannya, maka dengan lugas kita harus sampaikan bahwa dibagian tersebut butuh untuk ditambah lagi tenaganya. Jadi dengan kata lain, mungkin sebuah hal yang kecil menurut kita telah kita lakukan, namun bisa jadi berakibat besar bagi orang lain atau mungkin lingkungan ditempat kita ini.

Susahnya Mencari Jawabannya


mentari tumbuh dalam mekarnya suasana pagi yang cerah
terlukis embun-embun pagi di antara rerumputan ilalang
menambah semerbak wangi bau tanah basah meskipun tak sewangi pasca hujan dimalam hari
menyambutku yang sedang lari pagi

pikiran menerawang dalam hentakan kaki yang kulalui
mencoba memilah dan memilih akan apa yang terjadi
benak seakan berkecamuk kala makin jauh jarak yang kutempuh
Pakah yang terjadi??

mentari tlah berada setinggi tonggak
siang makin terang sambil menerka untuk menjawab akan datangnya malam
Langkahku terhenti karena makin kusadari akan jawabannya
ternyata aku butuh sarapan pagi …. cheers :)

(terlintas saat joging tadi pagi)

Multiple Choice Untuk Kondisi Ini


Dalam perjalanan balik sore tadi, kuamati seorang anak kecil duduk di
trotoar jalan yang banyak dilewati oleh orang-orang, sepintas
kuperhatikan dia membawa sebuah kotak tupperwear seukuran 15 x 20 x 15
cm, setelah scuter ku parkir dan berharap bisa lebih memperhatikan
dengan seksama, kudatangi anak tersebut, sambil duduk bersandar di
tembok pagar trotoar jalan dan dengan bersandar, tampang lusuh seakan
seharian debu jalan mewarnai bajunya, sepasang sendal lusuh berada
disampingnya, menerawang kosong pandangannya meskipun sambil
memperhatikan satu-persatu yang lalu-lalang sambil sesekali tangannya
memainkan kerikil disampingnya. Setelah agak dekat kotak yang dibawanya
berisi gorengan yang dia jajakan, apabila anda berada diposisi saya
apakah yang akan anda lakukan?

1. Membeli gorengannya?
2. Memberinya uang tanpa membeli gorengannya?
3. Mengamatinya dan menaruh iba tanpa berbuat apa-apa?
4. Cuek dan melaluinya saja?

Saya kembalikan kepada diri masing - masing untuk menjawabnya.

Independency Touring (II)


Dari tanggulangin lanjut ke Sidoarjo, disitu ada kampung batik, satu gang tersebut merupakan pengrajin batik asli sidoarjo, Daerah Jetis tepatnya,
satu gang tersebut ada kios-kios yang hanya menjajakan batik buatan
tangan pengrajinnya langsung, karena kebetulan hari ini tanggal merah
jadinya tidak semua stan buka. Dengan rasa ingin tahu akhirnya saya
beranikan diri masuk disalah satu stan, disitu terlihat asyik seorang
ibu yang sedang memegang canting (alat untuk membuat batik tulis),
"batiknya ini berapa Bu?", yang lengan pendek itu 80 ribu dan yang
lengan panjang itu antara 160 ribu - 200 ribu, jawab si Ibu.
Batik jetis sidoarjo memiliki corak tersendiri, sepintas dari warnanya
cenderung warna gelap yang menjadi dasar, disamping itu ‘kembang’ atau
motifnya identik dengan daun - daun yang seukuran sama dengan daun yang
dijadikan contoh. berbeda dengan batik motif dari madura yag identik
dengan warna ngecreng dengan perpaduan yang terkesan berani. Penasaran,
silahkan kunjungi daerahnya.

Independency Tour (I)


Hari ini ada keinginan untuk touring ke tanggulangin dan sidoarjo ,
dengan scuter kesayangan yang belum genep setahun menjadi kakiku,
keinginan sih untuk pesen tas kulit yang ada, tapi ternyata harga masih
kurang sepadan, udah kutawar mentah - mentah tapi masih aja belum kena
sesuai harapan, akhirnya tadi si penjual bilang kalau coba beli kulit samak-an
sendiri ntar kita jahitin, per-feet nya sekitar 14 ribu, untuk buat tas
anda dibutuhkan kira - kira 15-20 feet, dengan ongkos jahit sekitar 125
ribu, weleh …sama aja ternyata :((

Antara Upacara dan Mengheningkan Cipta


Sebuah pembicaraan dengan sahabat :
Iyul : Kapan terakhir Ikut upacara?
Dia  : terakhir ikut upacara pas kelas 3 smu
Iyul : Jadi tadi pagi ada upacara ya?
Dia  : Iya nih
Iyul : Gimana rasanya?, apakah mata berkunang - kunang setelah sekian lama ngga pernah ikut upacara?
Dia  : ngga tuh Bp
……..(Kurang lebih mungkin seperti itu)..

Kalau pertanyaan tersebut diarahkan ke rekan-rekan lain
sepertinya jawabannya adalah sudah lama ngga pernah ikut upacara, bukan
begitu?! :)) … mungkin pertanyaan akan dikurangi porsinya menjadi,
"Seberapa sering kita turut mengheningkan cipta kala detik - detik
proklamasi dibacakan di setiap tanggal 17 agustus pukul 10:00
WIB??"….

Benarkah ini yang dinamakan malam Renungan??


2 hari yang lalu ada undangan dari tetangga untuk menghadiri acara renungan, semenjak saya SD sampai dengan saat ini, ada sebuah keinginan dalam benak untuk menanyakan, mengapa formatnya sampai dengan saat ini belum berubah???, tema renungan identik dengan introspeksi diri, karena diadakan pada saat Ulang tahun kemerdekaan negara kita maka introspeksinya diarahkan ke dalam diri kita dalam menyambut Ulang tahun tersebut, mungkin lebih afdolnya dengan mencoba menanyakan keada diri kita masing-masing "Apa yang telah kita berikan kepada negara kita???", boro - boro mau mengelak atau menepis jawaban tersebut, lah wong .. mematuhi rambu lalu-lintas aja kadang susah, atau bayar pajak negara aja kadang kita telat, malahan ada beberapa rekan - rekan kita cenderung Golput saat Pilkada atau Pemilu.
Kembali ke acara renungan, apakah memang formatnya renungan di acara 17 an selalu ada tumpeng, kue, kopi, senda gurau, gelak tawa membahana di plataran jalan yang selalu tiap tanggal 16 selalu kita tutup demi kepentingan warga dengan embel - embel kepentingan negara???, jawabnya saya serahkan kepada diri kita masing - masing dalam menyikapinya.

Kemerdekaan


Tahun ini sepertinya makna kemerdekaan agak berbeda, seperti biasa aneka lomba - lomba ramai diadakan di lingkungan rumah, dari mulai makan kerupuk, bakiak beregu, panjat pinang sampai dengan pementasan seni diadakan. begitu pula di area-area perkantoran tampak perlombaan yang mengajak seluruh karyawannya membaur dalam nuansa kemerdekaan. Namun apakah seperti itu makna kemerdekaan??
Tahun ini sepertinya makna kemerdekaan mengajak kita merenungi apa fungsi sebenarnya kemerdekaan itu, apakah hanya kemerdekaan sikap berdasar atas nurani?, ataukah kemerdekaan atas kebebasan kita dalam menentukan sikap?, ataukah kemerdekaan atas apa saja yang telah kita peroleh selama ini?, mungkin kalau di perhatikan lebih seksama lebih dari itu, pernahkah kita merasa bahwa kemerdekaan itu merupakan keberanian diri kita dalam mensyukuri segala yang terjadi di lingkungan sekitar kita, mulai dari sarapan pagi yang selalu terhidang di kala kita hendak berangkat kerja? atau mungkin kendaraan yang kita kendarai masih lebih nyaman dibandingkan pengguna jalan lain? atau mungkin yang lain. Mensyukuri kondisi saat ini merupakan salah satu hal yang perlu dikedepankan sebelum kita menanyakan akan beberapa hal yang masih kurang, Di butuhkan sebuah keberanian yang tinggi untuk melakukan hal tersebut, hiruk-pikuk kondisi negara kita saat ini makin memuncak karena kita kurang berani menanamkan kepada diri kita akan rasa syukur kepada-Nya. Salah satu misal, kondisi macet yang kadang membuat kita datang telat, disitu mestinya kita harus bersyukur bahwa kita senantiasa diajari untuk Bangun pagi dan berangkat pagi agar tidak terjebak macet, selain itu Korupsi Yang meraja lela dari muali parlemen sampai dengan kalangan paling bawah, di situ kita musti bersyukur bahwa kita diberikan contoh-contoh akan kondisi yang dinamakan Korupsi yang merugikan semua kepentingan termasuk kita dan kondisi yang bukan korupsi yang mestinya senantiasa kita kampanyekan, Dan lain sebagainya. Jadi, beranikah Anda bersyukur atas semua keadaan setelah kita merdeka selama 63 tahun??!!.